BESOK DI GERBANG INI
oleh: Muh. Zuhal
Besok... tak lagi bisa kudapati
senyum manismu menyapa pagi
dan aku hanya bisa berdiri di gerbang ini
sambil memupus harap
langkah kakimu menderap
Besok... tak lagi bisa kunikmati
angguk anggunmu menyapa hati
dan aku hanya bisa mematung di gerbang ini
sambil mengeja namamu yang jadi prasasti
Oh sayang … ajari aku padamkan rindu
seperti telah kau ajari aku nyalakan cinta
karena begitu perihnya
jika air mata kujadikan tinta
bagi sajak hatiku yang terdera
Oh sayang … aku baru terjaga
dari mimpi indah kebersamaan kita
dalam sekilas tidur pulasku
saat rehat dari penat
perjalanan melelahkan membosankan
Oh sayang…
besok kuyakin matahari masih menghampiri
namun mungkin tak lagi indah bagiku
karena ia tak lagi mengantarmu
mendatangi gerbang ini
MEI 2008
Mitra Kami
BESOK DI GERBANG INI
Apakah Imam 4 juga Aswaja?
Ada pertanyaan via SMS ke saya,”NU dalam bidang aqidah menganut aswaja yang merujuk pada Al-Asy’ari dan Al-Maturidi, tapi dari segi Fiqh menganut salah satu dari 4 madzhab. Pertanyaannya apakah Imam Madzhab 4 juga beraqidah aswaja? Padahal mereka ber-4 jauh lebih dulua ada sebelum Al-Asy’ari dan Al-Maturidi, benarkah demikian? Jawaban: materi aqidah aswaja sudah ada jauh sebelum Al-Asy’ari dan Al-Maturidi, aqidah aswaja adalah aqidah yang diajarkan oleh Rasulullah dan dijadikan I’tiqad oleh generasi salaf (sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in). Aqidah aswaja adalah Aqidah Islam itu sendiri. Dengan asumsi bahwa setiap Nabi dan Rasul sama dalam bidang aqidah maka juga bisa disimpulkan bahwa sejatinya aqidah aswaja adalah juga aqidah semua Nabi dan Rasul beserta umat Islam zaman mereka. Dengan demikian Imam Madzhab 4 juga adalah penganut aswaja, meski nama aswaja kala itu belum muncul. Secara substansial aqidah mereka identik dengan aqidah Al-Asy’ari dan Al-Maturidi, tetapi tentu saja mereka tidak disebut sebagai Asy’ariyah dan Maturidiyah, karena kedua beliau ini belum ada. Yang perlu diketahui adalah bahwa Al-Asy’ari dan Al-Maturidi tidak mengarang atau membuat aqidah baru. Materi aqidah Al-Asy’ari dan Al-Maturidi 100 persen diambil dari aqidah para ulama dan umat Islam kala itu. Al-Asy’ari dan Al-Maturidi hanya men-sistemisasi dan memberikan argumentasi berdasar dalil aqli dan juga naqli. Penyusunan konsep sifat wajib 13 ataupun 20 –misalnya- adalah dalam rangka menjaga aqidah umat islam dari distorsi. Dengan konsep sifat wajib ini ketika ada permasalahan seperti munculnya pemikiran yang tidak selaras dengan aqidah Islam segera dapat diatasi. Misal; sifat wujud dapat menangkis pemikiran atheis, mukhalafatul lil hawaditsi dapat menangkis pemikiran Tajsim atau Tasybih (Antrophomorfis) dan sebagainya. Setiap muslim tidak bisa menyangkal akan adanya sifat wajib ini pada diri Allah. Termasuk mereka yang selama ini mencemoh konsep ini dengan alasan tudak diajarkan oleh Rasulullah. Setiap muslim ketika ditanya; apakah Allah ada? Semua akan menjawab “ada”. Apakah Allah maha kuasa? Semua akan menjawab “maha kuasa”. Dan seterusnya. Seorang muslim yang sudah faham tentang sifat wajib -Mukhalafatul lil hawaditsi- tentu saja- sekalian dengan dalil-dalilnya akan langsung menolak pernyataan ”Allah bersemayam di ‘Arsy” meski dia mendapati pemahaman ini sangat gencar didakwahkan. Dengan demikian konsep sifat wajib 13 dan 20 bisa dipandang efektif untuk menjaga pemahaman tentang kesempurnaan Allah. Untuk memudahkan pemahaman bahwa Imam madzhab 4 juga berfaham aswaja meski ‘Imam Aswaja” belum terlahir, adalah dengan menganalogkan dengan kasus yang terjadi pada ilmu Nahwu, Mantiq dan juga Hadits. Penyusun Ilmu Nahwu adalah Abul Aswad Ad Du’ali, yang termasuk generasi Tabi’in. Lalu apakah Rasulullah dan para Sahabat ketika berbicara tidak menggunakan Nahwu?. Penyusun Mantiq adalah Aristoteles, lalu apakah Plato, Sokrates, Pithagoras dan lainnya tidak menggunakan mantiq ketika berfikir.
INDONESIA DAN ASWAJA
INDONESIA DAN ASWAJA Ole: Muh. Zuhal Ma'ruf Assalamu’alaikum Wr. Wb. Segala puji milik Allah, Shalawat dan Salam bagi Rasul-Nya. Perkenankan kami berdiri di hadapan hadirin untuk menyampaikan paparan singkat bertajuk “Indonesia dan ASWAJA”, paparan ini kami harapkan mampu menggugah fikir dan nurani kita untuk bersama-sama mempertahankan dan mengembangkan paham Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di negeri kita tercinta, mengingat maraknya berbagai paham radikal dan liberal belakangan ini. Hadirin yang dimulyakan Allah… Jika kita berkaca diri, kita akan dapati betapa unik dan istimewanya Islam di negeri ini. Setidaknya keunikan dan keistimewaan tersebut ada dalam 3 hal, pertama; meski secara geografis letak Indonesia berada pada posisi yang jauh dari negeri asal Islam yakni Jazirah Arab, namun dakwah Islamiyah bisa berjalan efektif di negeri ini, terbukti Islam dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia dan bahkan mencatatkan diri sebagai Negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di seluruh dunia. Kedua; meski tiga setengah abad dijajah negara kafir, terbukti Islam bisa tetap eksis di negeri ini. Tentu saja ini prestasi luar biasa, jika misalkan kita bandingkan dengan negeri Andalusia atau Spanyol. Delapan abad Islam berkuasa di Andalusia dengan menorehkan banyak sekali prestasi peradaban, tetapi akhirnya pada 2 Januari 1492 ia lepas dari genggaman umat Islam. Umat Islam terusir meninggalkan karya peradaban yang terampas. Ketiga; Islam datang ke Indonesia melalui cara-cara damai, jauh dari kekerasan, apalagi pertumpahan darah. Islam didakwahkan melalui aktifitas perdagangan, seni budaya, perkawinan dan juga melalui ajaran tasawuf. Hadirin Rahimakumullah…Mengapa Islam di negeri ini bisa tetap eksis serta mengakar kuat dalam masyarakat? Di antara jawabannya adalah bahwa Islam yang berkembang di Indonesia adalah Islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Suatu faham Islam moderat dengan karakteristik tawazun, tawassuth, tasamuh dan ta’adul. Suatu faham yang sejatinya diikuti mayoritas muslimin dunia sejak zaman Rasulullah hingga hari kiamat. Suatu faham yang sejatinya adalah Islam itu sendiri. Dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah 143 Allah berfirman: • •• Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Hadirin Rahimakumullah…Islam ‘ala Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ditambah kebijaksanaan para penyebarnya menjadikan Islam di negeri ini memiliki kelenturan luar biasa, dan karenanya bisa demikian tahan banting. Sejarah mencatat bagaimana gending, tembang dolanan dan wayang telah menjadi media dakwah ampuh di tangan walisanga. Sejarah juga mencatat bagaimana akulturasi budaya dan islamisasi tradisi telah mampu membalik pranata social dari nuansa agama pagan ke nuansa agama samawi. Demikian deskripsi singkat metode dakwah luar biasa yang dipraktekkan para wali. Dan hasilnya seperti kita lihat, pelan tapi pasti masyarakat negeri ini beralih ke Islam. Dan hebatnya hal itu dilakukan masyarakat dengan sukarela, tanpa paksaan sama sekali. Allahu akbar. Hadirin Rahimakumullah…Kita harus waspada, belakangan ini marak cara dakwah dengan model lain. Wajah sangar, cacian kasar, pengrusakan fasilitas dan bahkan ledakan bom. Cara-cara yang tidak hanya menakutkan bagi ahli ma’siyat tapi juga muslim ta’at. Tidak hanya membuat miris orang non muslim tapi juga sesama muslim. Padahal Allah telah memberi petunjuk kepada kita tentang metode dakwah yang tepat, melalui firmannya dalam Al Qur’an Surat An Nahl 125 yang berbunyi: • • Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk Begitu pula Rasul telah mencontohkan bagaimana Dakwah Islamiyah dilaksanakan. Kisah Rasulullah dengan Da’tsur, dengan Suraqah dan banyak lagi lainnya sangat popular di telinga kita. Detail kehidupan Rasulullah termasuk dakwah yang beliau lakukan dapat kita baca dalam Sirah Nabawiyah. Jika kita mau mengkajinya kita akan dapati sosok yang lembut, santun, pemaaf dan jauh dari karakter kasar dan beringas. Hadirin Rahimakumullah… Kewaspadaan kepada harakah Radikal dapat kita lakukan di antaranya dengan mengarahkan dan membimbing putra-putri kita memilih organisasi keagamaan yang jelas-jelas beraqidah Asy’ariyah-Maturidiyah sebagai pemilik resmi label Ahlus Sunnah. Sebab belakangan ini banyak kelompok yang mengklaim sebagai Ahlus Sunnah padahal ajaran aqidahnya menyimpang. Dari uraian di atas dapat kita simpulkan: pertama: Islam di Indonesia adalah unik dan istimewa, kedua: Islam yang tersebar di Indonesia adalah ASWAJA yang berkarakter tawazun, tawassuth, tasamuh dan ta’adul, ketiga: kita harus waspada terhadap maraknya Islam radikal belakangan ini, kita bimbing putra-putri kita memilih organisasi keagamaan yang beraqidah Asy’ariyah-Maturidiyah. Demikian paparan ini, semoga ada manfaatnya. Jika terdapat kurang dan salah kami mohon maaf sebesar-besarnya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.





